[Ini cerita yang sayang-sayang kalau berakhir di recycle
bin. Jadi, Pengarang memutuskan untuk memublikasikan ke blog ini.
Demi meramaikan suasana~]
*
Meski Ahran adalah salah seorang
pemburu iblis, bukan berarti keberaniannya selalu lebih tinggi dibanding yang
lainnya. Saat mengetahui kenyataan dia dan temannya diharuskan melenyapkan
iblis di Reruntuhan Tua, dia tetap menimbang pilihan untuk menolak.
“Aku tidak yakin pada apa pun yang
berada di sana, Halil,” Ahran memeringatkan rekannya. “Aku merasakan hawa
gelap, memancar sampai sini.”
Tidak heran anak laki-laki berusia
empat belas tahun ini cemas. Kabarnya, Reruntuhan Tua tidak hanya dihuni oleh
iblis rendahan menyerupai bocah bersayap kelelawar, melainkan iblis tingkat
tinggi.
Iblis sendiri sejatinya adalah sifat
jahat manusia yang mengambil wujud. Jadi semakin kejam orang-orang yang pernah
tewas, maka kian kuat iblis yang harus ditangani. Dan semua itu diperburuk
dengan kenyataan bahwa Reruntuhan Tua merupakan saksi bisu dari perang melawan
Barat.
Halil berdeham untuk membersihkan
tenggorokan. “Membasmi iblis di wilayah ini sudah jadi kewajiban kita, kan?”
balasnya kemudian. “Lagipula, kau ini bagaimana? Bukankah iblis memang selalu
memancarkan hawa gelap?”
“Bukan itu,” Ahran memelankan
langkahnya. “Ini ... lebih kuat dari biasanya. Aku belum pernah menghadapi yang
seperti ini. Ini mirip—“
“Ziz?” tebak Halil, menyeringai
lebar.
Ahran mengangguk. “Ya. Iblis yang
berbahaya. Aku pernah dengar cerita makhluk itu bisa mengendalikan lawannya.
Puluhan prajurit Yanisari tewas dibuatnya.”
Halil tertawa kecil. “Mereka, kan,
prajurit. Kita berbeda. Meski kita masih sangat muda, kita terlatih untuk
memburu iblis sejak kecil.”
“Iya, ya,” Ahran ikut tersenyum,
namun tak lama senyumnya pudar. “Tapi, aku tetap merasa khawatir.”
Halil menghentikan langkahnya.
Matanya yang biru safir menatap Ahran lekat-lekat. Kedua tangannya yang gempal diletakkan
di bahu si bocah kurus bermata kelabu.
“Kauingat prinsip kaum kita, Ahran?”
tanyanya. “Serukan!”
“Pantang menyerah, sebelum musuh
enyah.”
“Ulang!” Halil berteriak. “Aku tidak
minta kausebutkan, tapi serukan yang lantang! Pemburu iblis pantang takut!”
Ahran menghela napas dalam-dalam,
lantas memekik. “Kami pemburu iblis pantang menyerah sebelum musuh enyah!”
Sebuah tepukan keras mendarat di bahu
Ahran. Halil berujar, “Nah, kalau begitu kau takkan jadi pengecut lagi. Ingat,
kita tidak sama dengan iblis. Kita punya akal, keberanian, keteguhan, dan
senjata.”
Dengan itulah, keyakinan yang besar
terbentuk dalam hati Ahran. Kekuatannya seolah bertambah dua kali lipat. Siapa
pun musuhnya, dia dan Halil pasti mampu menumpasnya. Walau demikian, keraguan
yang tak kecil pula masih membayangi perasaan Ahran. Entah kenapa firasatnya
sangat, sangat buruk.
***
Reruntuhan Tua terletak di tengah
hutan. Hutan itu tidak bernama, dan sama-sama terkenal mistis. Kelebatan
gerakan sesekali menghiasi pandangan Ahran, menandakan jumlah ancaman yang
tidak sedikit.
Dalam hutan, Ahran dan Halil tidak
perlu menggunakan lentera. Indra mereka berfungsi lebih optimal dibanding
rata-rata manusia.
Sebab, keduanya adalah pengguna sihir
istimewa. Ahran adalah pengendali api, sementara Halil lebih ke unsur udara.
Berdua, mereka terkenal sebagai pasangan maut sekaligus bencana bagi kaum
iblis.
Mereka sudah setengah jalan menuju
Reruntuhan Tua, ketika Ahran menghentikan langkahnya. Dia mencabut pedang perak
dari sarungnya.
“Ada sesuatu bergerak.”
“Aku tahu, Ahran.” Halil juga
menghunus sabitnya, yang besar sekali. Permukaannya diukir dengan tulisan berbahasa
Arab.
Ahran dan Halil membelakangi satu
sama lain. Masing-masing menghadap arah berbeda. Punggung mereka bersentuhan.
Namun, tidak ada yang muncul.
“Mereka mau mempermainkan kita,” ucap
Ahran. “Hawa gelap terasa di beberapa titik, tapi sumbernya sama. Hanya dua
iblis yang timbul tenggelam.”
“Sebaiknya lanjutkan jalan,” usul
Halil, “tanpa mengurangi kewaspadaan.”
Bersisian, mereka melangkah dengan
lebih lamban. Selain iblis yang bisa tampak kapan pun, tanah di hutan yang
dipenuhi dedaunan kering turut menghambat pergerakan.
Ahran merapatkan jubahnya. Malam
makin larut, terasa dari angin yang berembus. Akan tetapi, Reruntuhan Tua tak
kunjung kelihatan.
Tiba-tiba, suara tangisan perempuan
berdendang di udara. Sumbernya jauh, sekaligus dekat di saat yang bersamaan. Ahran
dan Halil memalingkan wajah ke segala arah. Tetapi, itu hanya peristiwa yang
sama seperti sebelumnya.
“Cuma suara,” desis Halil geram.
“Jangan terpengaruh, Ahran.”
“Siapa bilang?”
Dua remaja itu berpaling. Berdiri di
belakang mereka, adalah sesosok wanita. Dia mengenakan gaun sutra berwarna
putih, parasnya rupawan. Namun siapa pun paham orang itu bukan manusia.
“Dua anak laki-laki keluar tengah
malam,” kata wanita itu. “Itu membuat hatiku sakit. Apa kalian masih memiliki
orang tua?”
“Siap?” bisik Halil.
“Ya.”
Ahran menerjang ke depan, begitu pula
Halil. Keduanya menapakkan kaki keras-keras, membiarkan diri mereka berputar di
udara dengan senjata terhunus. Ketika mendarat, bilah senjata mereka memotong
kedua lengan sang iblis bergaun.
Makhluk itu menjerit. Pekikannya
bagaikan auman singa. Perlahan matanya berubah merah menyala. Wajahnya yang mulus
menjadi buas. Itulah wujud aslinya.
“Sekali lagi!” ujar Halil penuh
semangat.
Dengan cepat dia berbalik. Meski
bertubuh tambun, gerakannya begitu cekatan. Dengan sekali ayunan senjata saja,
kepala sang iblis telah terpisah dari batang lehernya. Tanpa sempat berkelit
atau bahkan menyadari niat untuk serangan berikutnya.
Ahran dan Halil langsung beringsut
mundur. “Satu ... dua ... tiga .... Meledak!”
Sesuai perhitungan Halil, tubuh iblis
membengkak dan pecah. Biasanya ledakan menghasilkan api yang menyala keemasan,
namun kali ini berbeda. Anggota badan iblis itu tercerai-berai, darahnya yang
hitam pekat berhamburan. Tidak ada api.
Kedua pemburu iblis mengangkat bahu.
Yang penting, satu musuh berhasil dibasmi.
“Paling-paling yang akan kita hadapi
nanti tidak jauh berbeda dari yang tadi,” Halil berpendapat. “Jadi tidak perlu
risau.”
“Semoga saja begitu.”
Akhirnya, mereka tiba di bangunan
terlupakan yang disebut Reruntuhan Tua. Tempat itu dulunya kastel darurat.
Sisa-sisa kejayaaannya masih tampak di beberapa bagian. Aura gelap yang luar
biasa menakutkan bersarang di sini. Ahran yang punya kelebihan di pelacakan
hawa, sampai diserang pening hebat. Dia jatuh berlutut.
“Kau kenapa?”
Ahran memegangi keningnya yang
berdenyut. “Ziz, dia mencoba menumpulkan kemampuanku.”
Halil mendesah kaget. “Astaga, ini
buruk sekali! Sebaiknya kita pulang dulu.”
Mereka berdua hendak beranjak
kembali, namun terhenti. Bagai terdapat dinding tak kasatmata mengelilingi
Reruntuhan Tua, keduanya terjebak. Mereka tidak bisa kemana-mana lagi.
“Keterlaluan, iblis itu menantang
kita masuk ke rumahnya!” Halil menggeram. “Kalau dalam keadaan biasa, aku
mungkin bersemangat. Tapi kau sekarang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Dan
dia memanfaatkan itu.”
“Tenang saja, cuma pusing. Nanti
hilang sendiri.”
“Tidak,” jawab Halil. “Aku akan
menunggumu sampai pulih.”
Ahran berdiri, memaksakan senyum yang
dibuat semeyakinkan mungkin. “Sudah tidak apa-apa,” dustanya. “Barangkali, cara
satu-satunya agar kita keluar dari sini adalah dengan memenggal Ziz. Ayo!”
“Kalau kau sakit lagi, aku selalu
siap melakukan apa saja,” Halil mewanti-wanti. “Jangan dipaksakan, ya.”
“Ya.”
Mereka memasuki bekas kastel yang
berwarna kelabu itu. Aroma darah dan karat logam menguar, memaksa dua remaja
dari Edirne itu untuk menutup hidung. Di mana-mana bergelimpangan sisa-sisa
perang: baju zirah, berbagai macam senjata, juga tulang-belulang. Beberapa kali
iblis tingkat rendah muncul, dan dihadapi kedua pemburu muda itu dengan
sukacita.
“Masih pusing?” tanya Halil.
“Sudah tidak,” kali ini Ahran berkata
jujur. “Tapi, kemampuanku mendeteksi keberadaan aura gelap ... hilang.”
“Benarkah itu?” Halil terbeliak.
“Iblis kurang ajar. Dia benar-benar minta dihajar.”
Namun Ahran melihat, ada yang berbeda
dari air muka rekannya itu. Yang biasanya diliputi semangat membara, kini
hanyalah wajah pucat yang lesu.
“Kita bisa menghadapinya,” Halil
mencoba menenangkan dengan suara bergetar. Yang malah memperburuk suasana. “Aku
yakin itu. Kau juga harus!”
“Aku selalu begitu, Halil.”
Beberapa lama kemudian, mereka tiba
di lantai tiga. Lantai terakhir di Reruntuhan Tua. Berbeda dengan dua lantai
sebelumnya, tidak ada aroma busuk maupun perkakas perang.
Hanya ada sebuah ruangan. Luas
sekali, seperti balairung. Puluhan obor menyala di dinding. Panji-panji merah
bergambar bulan dan bintang yang terkoyak terpasang di antara obor-obor itu. Dan
di tengah ruangan, terdapat singgasana dari batu yang kosong.
Ahran mengembuskan napas lega. “Dia
tidak ada.”
“Belum tentu,” sahut Halil.
“Sebaiknya periksa.”
Tapi mendadak, tangan Ahran bergerak
sendiri. Dia mengayunkan pedang pada Halil, memberi remaja gemuk itu sayatan di
dada. Jubahnya terkoyak. Darahnya merembes ke pakaian.
“A-aku ....” Lantas, Ahran merasakan
sesuatu menggerakkan wajahnya. Dia menyeringai lebar dan berucap, “Dasar bocah
lemah! Kaupikir bisa mengalahkan aku?”
Sambil menahan sakit, Halil membalas
lirih, “Kau bukan temanku! Keluarlah dari pikirannya!”
“He?” Ahran mengangkat alisnya,
padahal dia tidak menginginkannya. “Kau menuduhku iblis, Halil? Asal kautahu,
aku sudah merencanakan kepergian kita kemari. Agar aku bisa melenyapkanmu,
kemudian bilang pada semua orang kau tewas dibunuh iblis. Orang-orang memujimu,
selalu begitu. Sekarang waktunya semua pujian itu berpindah kepadaku.”
Beruntung, Halil tidak terpancing.
Dia menggenggam pegangan sabitnya dengan lebih erat. “Semua pemburu tahu sepak
terjangmu, Ziz! Jangan kaukira aku akan melukai sahabatku!”
“Dasar bocah keras kepala,” sembur Ahran.
“Kalau kau menganggapku iblis, tidak masalah. Tujuanku tetap akan tercapai.”
Ahran ingin sekali berhenti, tetapi
tidak mampu. Tubuhnya terus bergerak, menyerang Halil bertubi-tubi tanpa jeda.
Di sisi lain, Halil tidak pernah membalas. Dia terus berkelit. Kelelahan mulai
terlampau kentara pada wajahnya.
“Kenapa?” tanya Ahran. “Kenapa kaubisa
begitu tolol?”
Halil tidak menanggapi. Mulutnya
terkatup selagi menghindar. Satu tangannya tak pernah lepas dari lukanya.
“Kelemahanmu dari dulu sama, Halil,”
lanjut Ahran tanpa berhenti menerjang. “Mungkin kau berbakat. Kau cerdas, kau
bersekolah, dan kau punya banyak teman. Berbeda denganku. Tapi kau mudah sekali
diperdaya. Seharusnya orang seperti itu tidak layak memperoleh apa yang sudah
kaudapat!”
Tidak ada respons, itu baik sekali.
Namun Ahran merasa sangat terpukul. Sebenarnya, apa yang telah terucap barusan
memanglah apa yang selama ini ada dalam pikirannya. Dan selama itu pula dia
berusaha agar tidak pernah menyiratkannya.
Halil berlari menuju tangga. Langkah
brilian. Sayangnya, kekuatan yang mengendalikan Ahran lebih cepat. Pedang perak
merobek punggungnya lebih dulu. Anak laki-laki yang malang itu pun terguling.
Ahran turun dengan melompati empat anak tangga sekaligus. Dia berlutut di dekat Halil yang meringkuk sambil merintih.
“Memang, sulit untuk memercayai teman
kita sendiri bermaksud mencelakai,” kata Ahran. “Kalau begitu, kuakhiri saja
penderitaanmu ini. Bagaimana pun, kau pernah menjadi sahabatku. Aku tidak akan
menyiksamu.”
Di luar dugaan, Halil bergerak cepat.
Dia meraih senjatanya dan balas menyerang.
Ahran melompat ke belakang, namun
terlambat. Lengan kirinya tergores cukup dalam. Sesuatu yang masih
mengendalikannya bahkan tidak membuat dirinya kebal. Dia tetap merasa perih.
“Tutup mulutmu!” Halil mendelik. Itu
adalah kali pertama Ahran melihat sahabatnya sangat berang. “Kalau ini yang
kauinginkan, kuhabisi kau lebih dulu!”
Seketika, Ahran mendapatkan kendali
atas dirinya kembali. Dia langsung berkata, “A-aku ... dari tadi. Ada yang
mengendalikanku!”
“Kau membuatku muak,” Halil memasang
wajah kecewa. “Ternyata selama ini, beginilah niatmu. Padahal aku sangat
memercayaimu.”
“K-kau keliru!” Ahran menyangkal.
Namun sekarang, keadaan telah
berbalik. Halil yang mengejarnya. Bilah sabitnya terayun ke depan, terus
menghantui sepanjang langkah Ahran.
Tanpa mengurangi kecepatannya kabur, Ahran
berusaha angkat bicara. “A-aku ... aku ... dari tadi. Aku tidak—“
Rupanya dia sedang sial. Kakinya
tersandung tameng yang tergeletak di lantai. Ahran jatuh tersungkur. Hidungnya
adalah yang pertama kali menubruk lantai batu. Darah pun mengucur. Kepalanya
seolah dihantamkan bola meriam, sedangkan Halil berdiri menjulang di
belakangnya.
Ahran berbalik. Napasnya putus-putus.
Nyaris hilang asa, dia berharap Halil mau mendengarnya kali ini. “Lihat
pa-pandanganku ... apa aku sama, dengan yang tadi? Ziz, itu tadi Ziz. Iya ...
itu bukan aku, Halil.”
“Kamu memanggil siapa, Putra Neslihan?”
“Tidak ....”
Ahran membelalakan mata. Sosok di
hadapannya bukanlah rekannya, melainkan seorang wanita yang mengenakan pakaian
Halil. Iblis bergaun yang beberapa saat lalu menampakkan diri di hutan.
“Mempermainkan manusia itu
menyenangkan,” katanya menggoda. “Terlebih, yang masih muda dan bersemangat.
Lucu sekali melihat wajahmu barusan.”
“Kau adalah—“
“Ziz,” Sang iblis wanita membenarkan.
“Benar. Ini aku, Anak Adam.”
Air mata Ahran menetes. “Katakan di
mana Halil!”
Wanita iblis itu menghampiri Ahran
yang bergeming membeku. Dia berbisik di telinga pemburu muda itu, “Temanmu ada
di sini, di dalam diriku. Aku yang memakannya beberapa pekan silam. Lalu aku membawamu
ke sini. Tidak ada yang menyadarinya, termasuk kamu dan ibumu. Sandiwaraku
hebat, ‘kan?”
Ahran menelan ludah. Jantungnya
berdegup keras dan napasnya sesak. Dia berharap nyawanya dicabut saat ini juga
oleh Tuhan.
“Ibumu telah mengirim putraku ke
neraka,” lanjut sang iblis. “Sekarang, aku ingin menggantikan putraku yang
hilang itu. Kamu bersedia menjadi putraku, kan?”
Ahran menggerakkan matanya ke sudut.
Dia menatap iblis di sisinya dengan nyalang.
“Aku tidak sudi!” salaknya.
Diseretnya tubuhnya ke samping,
menjauhi sang iblis. Dia pun berkonsentrasi, terpejam selama beberapa saat.
Seiring dengan itu, tanah di dekat kakinya berpendar merah. Menciptakan semacam
sigil berbentuk bintang segi enam. Tatkala membuka mata, bibirnya merapal, “Lehavah!”
Kobaran api menyelimuti dirinya.
Namun tidak lama berselang, api itu menguap dan berkumpul menjadi tujuh bola
api di udara. Ahran mengarahkan satu ke iblis wanita.
“Sihir yang tidak biasa, persis ibumu,”
komentar sang iblis seraya melompat berdiri. “Tidak buruk!”
Ahran tidak berhenti. Dilepaskannya
bola-bola sihir itu ke arah musuh. Sudah tak dipedulikannya lagi risiko yang
mungkin ditanggungnya. Asalkan iblis wanita itu mati, dia bersedia melakukan
apa saja.
Bola api ketiga mengenai pakaian sang
iblis. Wanita itu mulai jengah. “Aku tidak pernah berniat membunuhmu,” katanya
sambil memadamkan api. “Tapi kalau kamu menantangku, aku takkan segan!”
Dia menyeringai lebar, memperlihatkan
sederet gigi yang runcing. Lantas, dia mengambil sabit yang biasa digunakan
Halil.
“Putra Neslihan, kukirim kamu ke
neraka. Bertarunglah dengan putraku di sana!”
Wanita itu melayangkan bilah sabitnya
ke arah wajah Ahran. Yang untungnya bisa dihindari. Anak laki-laki itu memalingkan
wajah untuk berkelit, lantas berdiri dan berlari. Ingin punya lebih banyak
waktu untuk merencanakan serangan balasan. Ketiga bola sihir yang tersisa masih
melayang di belakang bahunya.
“Percuma lari,” ucap sang iblis di
belakang, “aku selalu mampu menangkapmu.”
Benar saja. Tiba-tiba wanita itu
telah duduk di sebentuk gundukan tulang dan baju besi. Dia menyilangkan tangan.
“Menyerah?”
Ahran menjawab dengan melancarkan
tiga bola api sekaligus. Alhasil, kumpulan zirah terbakar sementara sasarannya
sekarang sudah berpindah tepat di depan wajahnya.
“Kejutan, Anak Adam!”
Pemburu muda itu pun terpental jauh.
Punggungnya menabrak dinding. Begitu tiba di permukaan lantai, lautan kerangka
menyambutnya. Kalau Ahran bukan penyihir, besar kemungkinan riwayatnya tamat
seketika itu juga.
Tapi deritanya belum usai. Sang iblis
masih bergairah untuk membuatnya makin sengsara. Dia menarik kerah jubah Ahran,
mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Bagaimana?” tanyanya dengan wajah
gembira. “Kamu menyadari sendiri apa yang bisa kulakukan terhadapmu, bukan?”
Ahran tidak bisa berkata-kata lagi.
Kesadarannya kian tipis. Sedangkan di pihak lain, sang iblis menggerakkan
jemari tangan satunya di depan wajah anak laki-laki itu. Mengirimkan aura gelap
yang merasuk ke dalam tubuh melalui tarikan napas.
Sekali lagi, Ahran menitikkan air
mata. Sejak lama, kesialan tidak pernah jemu mempermainkannya. Selalu ada saat
di mana dia menginginkan hidupnya berakhir, namun bukan dengan cara seperti
ini. Perlahan, dia menangis terisak.
Tiba-tiba dia ingat ibunya, yang kini
menunggu dirinya di rumah. Entah bagaimana, dia merasakan kerinduan yang
teramat sangat. Yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.
Ibu Ahran barangkali memang bukan ibu
terbaik di dunia ini. Sifatnya keras, selalu bicara dengan tongkat pemukul, dan
kerap kali mengurung putra satu-satunya ini di dalam ruangan berjeruji.
Walau begitu, Ahran tetap
menyayanginya. Dia tidak mau mati di sini. Sekurang-kurangnya, dia ingin
mengecup ibunya itu sekali lagi. Barulah dia dapat meninggalkan dunia dengan
damai.
Maka dengan harapan itu, Ahran
merapalkan mantra. Dia belum menguasai sihir ini sepenuhnya. Namun dia berdoa
kepada Tuhan, agar dapat menggunakan kemampuannya tersebut sekali ini saja.
Untuk setidaknya melukai sang iblis cukup parah.
Ahran pelan-pelan membuka matanya. “Lehavah
charon!”
Di bawah kaki sang iblis, tengkorak
dan tulang belulang berpendar. Sebuah sigil berukuran besar terbentuk. Wanita
iblis itu akhirnya mengempaskan Ahran dan mencoba melarikan diri.
Kau takkan berhasil.
Seperti yang sudah-sudah, api
menyelimuti Ahran. Kali ini jauh lebih panas dan berkobar. Ahran mungkin tidak
merasakan panas sihirnya sendiri, tapi dia tahu musuh takkan bisa berkutik.
Api sihir pun menguap dan berpusar
membentuk bola api tunggal. Sang iblis menjerit menyaksikan sihir itu.
“Demi Tuhan!” seru Ahran. “Enyahlah
kau dari dunia ini!”
Bola sihir itu melesat dengan cepat.
Nyaris secepat satu detak jantung, api membentuk tombak yang langsung
menghunjam tubuh lawan.
Sang iblis terpaku. Mulutnya
menganga. Dia tak sempat menjerit saat api menggerogoti dirinya.
Sebelum tubuhnya benar-benar
terkikis, dia memperlihatkan wujudnya yang sejati. Wanita berambut putih
panjang, dengan wajah manusiawi dan sayap hitam yang membentang.
Setelah itu, kesadaran Ahran
berangsur-angsur menghilang. Akan tetapi sebelum dia pingsan, dia merasakan
sesuatu masuk ke dalam tiap lubang di tubuhnya. Dia juga mendengar sebuah suara
lembut mengalun dalam pikirannya.
“Karena kamu telah berhasil
mengalahkanku. Maka dengan sisa kekuatanku, aku bersemayam dalam dirimu. Aku
akan membantumu tiap kamu menemui kesulitan. Panggilan aku, dan kuhancurkan
musuh-musuhmu.”
-End-
PS: tidak berhubungan dengan kanon saya di Battle of Realms V.