Sabtu, 25 Juli 2015

[Cerpen Iseng] Şanssızlık Ahran

[Ini cerita yang sayang-sayang kalau berakhir di recycle bin. Jadi, Pengarang memutuskan untuk memublikasikan ke blog ini. Demi meramaikan suasana~]

*

Meski Ahran adalah salah seorang pemburu iblis, bukan berarti keberaniannya selalu lebih tinggi dibanding yang lainnya. Saat mengetahui kenyataan dia dan temannya diharuskan melenyapkan iblis di Reruntuhan Tua, dia tetap menimbang pilihan untuk menolak.

“Aku tidak yakin pada apa pun yang berada di sana, Halil,” Ahran memeringatkan rekannya. “Aku merasakan hawa gelap, memancar sampai sini.”

Tidak heran anak laki-laki berusia empat belas tahun ini cemas. Kabarnya, Reruntuhan Tua tidak hanya dihuni oleh iblis rendahan menyerupai bocah bersayap kelelawar, melainkan iblis tingkat tinggi.

Iblis sendiri sejatinya adalah sifat jahat manusia yang mengambil wujud. Jadi semakin kejam orang-orang yang pernah tewas, maka kian kuat iblis yang harus ditangani. Dan semua itu diperburuk dengan kenyataan bahwa Reruntuhan Tua merupakan saksi bisu dari perang melawan Barat.

Halil berdeham untuk membersihkan tenggorokan. “Membasmi iblis di wilayah ini sudah jadi kewajiban kita, kan?” balasnya kemudian. “Lagipula, kau ini bagaimana? Bukankah iblis memang selalu memancarkan hawa gelap?”

“Bukan itu,” Ahran memelankan langkahnya. “Ini ... lebih kuat dari biasanya. Aku belum pernah menghadapi yang seperti ini. Ini mirip—“

“Ziz?” tebak Halil, menyeringai lebar.

Ahran mengangguk. “Ya. Iblis yang berbahaya. Aku pernah dengar cerita makhluk itu bisa mengendalikan lawannya. Puluhan prajurit Yanisari tewas dibuatnya.”

Halil tertawa kecil. “Mereka, kan, prajurit. Kita berbeda. Meski kita masih sangat muda, kita terlatih untuk memburu iblis sejak kecil.”

“Iya, ya,” Ahran ikut tersenyum, namun tak lama senyumnya pudar. “Tapi, aku tetap merasa khawatir.”

Halil menghentikan langkahnya. Matanya yang biru safir menatap Ahran lekat-lekat. Kedua tangannya yang gempal diletakkan di bahu si bocah kurus bermata kelabu.

“Kauingat prinsip kaum kita, Ahran?” tanyanya. “Serukan!”

“Pantang menyerah, sebelum musuh enyah.”

“Ulang!” Halil berteriak. “Aku tidak minta kausebutkan, tapi serukan yang lantang! Pemburu iblis pantang takut!”

Ahran menghela napas dalam-dalam, lantas memekik. “Kami pemburu iblis pantang menyerah sebelum musuh enyah!”

Sebuah tepukan keras mendarat di bahu Ahran. Halil berujar, “Nah, kalau begitu kau takkan jadi pengecut lagi. Ingat, kita tidak sama dengan iblis. Kita punya akal, keberanian, keteguhan, dan senjata.”

Dengan itulah, keyakinan yang besar terbentuk dalam hati Ahran. Kekuatannya seolah bertambah dua kali lipat. Siapa pun musuhnya, dia dan Halil pasti mampu menumpasnya. Walau demikian, keraguan yang tak kecil pula masih membayangi perasaan Ahran. Entah kenapa firasatnya sangat, sangat buruk.

***

Reruntuhan Tua terletak di tengah hutan. Hutan itu tidak bernama, dan sama-sama terkenal mistis. Kelebatan gerakan sesekali menghiasi pandangan Ahran, menandakan jumlah ancaman yang tidak sedikit.

Dalam hutan, Ahran dan Halil tidak perlu menggunakan lentera. Indra mereka berfungsi lebih optimal dibanding rata-rata manusia.

Sebab, keduanya adalah pengguna sihir istimewa. Ahran adalah pengendali api, sementara Halil lebih ke unsur udara. Berdua, mereka terkenal sebagai pasangan maut sekaligus bencana bagi kaum iblis.

Mereka sudah setengah jalan menuju Reruntuhan Tua, ketika Ahran menghentikan langkahnya. Dia mencabut pedang perak dari sarungnya.

“Ada sesuatu bergerak.”

“Aku tahu, Ahran.” Halil juga menghunus sabitnya, yang besar sekali. Permukaannya diukir dengan tulisan berbahasa Arab.

Ahran dan Halil membelakangi satu sama lain. Masing-masing menghadap arah berbeda. Punggung mereka bersentuhan. Namun, tidak ada yang muncul.

“Mereka mau mempermainkan kita,” ucap Ahran. “Hawa gelap terasa di beberapa titik, tapi sumbernya sama. Hanya dua iblis yang timbul tenggelam.”

“Sebaiknya lanjutkan jalan,” usul Halil, “tanpa mengurangi kewaspadaan.”

Bersisian, mereka melangkah dengan lebih lamban. Selain iblis yang bisa tampak kapan pun, tanah di hutan yang dipenuhi dedaunan kering turut menghambat pergerakan.

Ahran merapatkan jubahnya. Malam makin larut, terasa dari angin yang berembus. Akan tetapi, Reruntuhan Tua tak kunjung kelihatan.

Tiba-tiba, suara tangisan perempuan berdendang di udara. Sumbernya jauh, sekaligus dekat di saat yang bersamaan. Ahran dan Halil memalingkan wajah ke segala arah. Tetapi, itu hanya peristiwa yang sama seperti sebelumnya.

“Cuma suara,” desis Halil geram. “Jangan terpengaruh, Ahran.”

“Siapa bilang?”

Dua remaja itu berpaling. Berdiri di belakang mereka, adalah sesosok wanita. Dia mengenakan gaun sutra berwarna putih, parasnya rupawan. Namun siapa pun paham orang itu bukan manusia.

“Dua anak laki-laki keluar tengah malam,” kata wanita itu. “Itu membuat hatiku sakit. Apa kalian masih memiliki orang tua?”

“Siap?” bisik Halil.

“Ya.”

Ahran menerjang ke depan, begitu pula Halil. Keduanya menapakkan kaki keras-keras, membiarkan diri mereka berputar di udara dengan senjata terhunus. Ketika mendarat, bilah senjata mereka memotong kedua lengan sang iblis bergaun.

Makhluk itu menjerit. Pekikannya bagaikan auman singa. Perlahan matanya berubah merah menyala. Wajahnya yang mulus menjadi buas. Itulah wujud aslinya.

“Sekali lagi!” ujar Halil penuh semangat.

Dengan cepat dia berbalik. Meski bertubuh tambun, gerakannya begitu cekatan. Dengan sekali ayunan senjata saja, kepala sang iblis telah terpisah dari batang lehernya. Tanpa sempat berkelit atau bahkan menyadari niat untuk serangan berikutnya.

Ahran dan Halil langsung beringsut mundur. “Satu ... dua ... tiga .... Meledak!”

Sesuai perhitungan Halil, tubuh iblis membengkak dan pecah. Biasanya ledakan menghasilkan api yang menyala keemasan, namun kali ini berbeda. Anggota badan iblis itu tercerai-berai, darahnya yang hitam pekat berhamburan. Tidak ada api.

Kedua pemburu iblis mengangkat bahu. Yang penting, satu musuh berhasil dibasmi.

“Paling-paling yang akan kita hadapi nanti tidak jauh berbeda dari yang tadi,” Halil berpendapat. “Jadi tidak perlu risau.”

“Semoga saja begitu.”

Akhirnya, mereka tiba di bangunan terlupakan yang disebut Reruntuhan Tua. Tempat itu dulunya kastel darurat. Sisa-sisa kejayaaannya masih tampak di beberapa bagian. Aura gelap yang luar biasa menakutkan bersarang di sini. Ahran yang punya kelebihan di pelacakan hawa, sampai diserang pening hebat. Dia jatuh berlutut.

“Kau kenapa?”

Ahran memegangi keningnya yang berdenyut. “Ziz, dia mencoba menumpulkan kemampuanku.”

Halil mendesah kaget. “Astaga, ini buruk sekali! Sebaiknya kita pulang dulu.”

Mereka berdua hendak beranjak kembali, namun terhenti. Bagai terdapat dinding tak kasatmata mengelilingi Reruntuhan Tua, keduanya terjebak. Mereka tidak bisa kemana-mana lagi.

“Keterlaluan, iblis itu menantang kita masuk ke rumahnya!” Halil menggeram. “Kalau dalam keadaan biasa, aku mungkin bersemangat. Tapi kau sekarang sedang tidak dalam kondisi terbaik. Dan dia memanfaatkan itu.”

“Tenang saja, cuma pusing. Nanti hilang sendiri.”

“Tidak,” jawab Halil. “Aku akan menunggumu sampai pulih.”

Ahran berdiri, memaksakan senyum yang dibuat semeyakinkan mungkin. “Sudah tidak apa-apa,” dustanya. “Barangkali, cara satu-satunya agar kita keluar dari sini adalah dengan memenggal Ziz. Ayo!”

“Kalau kau sakit lagi, aku selalu siap melakukan apa saja,” Halil mewanti-wanti. “Jangan dipaksakan, ya.”

“Ya.”

Mereka memasuki bekas kastel yang berwarna kelabu itu. Aroma darah dan karat logam menguar, memaksa dua remaja dari Edirne itu untuk menutup hidung. Di mana-mana bergelimpangan sisa-sisa perang: baju zirah, berbagai macam senjata, juga tulang-belulang. Beberapa kali iblis tingkat rendah muncul, dan dihadapi kedua pemburu muda itu dengan sukacita.

“Masih pusing?” tanya Halil.

“Sudah tidak,” kali ini Ahran berkata jujur. “Tapi, kemampuanku mendeteksi keberadaan aura gelap ... hilang.”

“Benarkah itu?” Halil terbeliak. “Iblis kurang ajar. Dia benar-benar minta dihajar.”

Namun Ahran melihat, ada yang berbeda dari air muka rekannya itu. Yang biasanya diliputi semangat membara, kini hanyalah wajah pucat yang lesu.

“Kita bisa menghadapinya,” Halil mencoba menenangkan dengan suara bergetar. Yang malah memperburuk suasana. “Aku yakin itu. Kau juga harus!”

“Aku selalu begitu, Halil.”

Beberapa lama kemudian, mereka tiba di lantai tiga. Lantai terakhir di Reruntuhan Tua. Berbeda dengan dua lantai sebelumnya, tidak ada aroma busuk maupun perkakas perang.

Hanya ada sebuah ruangan. Luas sekali, seperti balairung. Puluhan obor menyala di dinding. Panji-panji merah bergambar bulan dan bintang yang terkoyak terpasang di antara obor-obor itu. Dan di tengah ruangan, terdapat singgasana dari batu yang kosong.

Ahran mengembuskan napas lega. “Dia tidak ada.”

“Belum tentu,” sahut Halil. “Sebaiknya periksa.”

Tapi mendadak, tangan Ahran bergerak sendiri. Dia mengayunkan pedang pada Halil, memberi remaja gemuk itu sayatan di dada. Jubahnya terkoyak. Darahnya merembes ke pakaian.

“A-aku ....” Lantas, Ahran merasakan sesuatu menggerakkan wajahnya. Dia menyeringai lebar dan berucap, “Dasar bocah lemah! Kaupikir bisa mengalahkan aku?”

Sambil menahan sakit, Halil membalas lirih, “Kau bukan temanku! Keluarlah dari pikirannya!”

“He?” Ahran mengangkat alisnya, padahal dia tidak menginginkannya. “Kau menuduhku iblis, Halil? Asal kautahu, aku sudah merencanakan kepergian kita kemari. Agar aku bisa melenyapkanmu, kemudian bilang pada semua orang kau tewas dibunuh iblis. Orang-orang memujimu, selalu begitu. Sekarang waktunya semua pujian itu berpindah kepadaku.”

Beruntung, Halil tidak terpancing. Dia menggenggam pegangan sabitnya dengan lebih erat. “Semua pemburu tahu sepak terjangmu, Ziz! Jangan kaukira aku akan melukai sahabatku!”

“Dasar bocah keras kepala,” sembur Ahran. “Kalau kau menganggapku iblis, tidak masalah. Tujuanku tetap akan tercapai.”

Ahran ingin sekali berhenti, tetapi tidak mampu. Tubuhnya terus bergerak, menyerang Halil bertubi-tubi tanpa jeda. Di sisi lain, Halil tidak pernah membalas. Dia terus berkelit. Kelelahan mulai terlampau kentara pada wajahnya.

“Kenapa?” tanya Ahran. “Kenapa kaubisa begitu tolol?”

Halil tidak menanggapi. Mulutnya terkatup selagi menghindar. Satu tangannya tak pernah lepas dari lukanya.

“Kelemahanmu dari dulu sama, Halil,” lanjut Ahran tanpa berhenti menerjang. “Mungkin kau berbakat. Kau cerdas, kau bersekolah, dan kau punya banyak teman. Berbeda denganku. Tapi kau mudah sekali diperdaya. Seharusnya orang seperti itu tidak layak memperoleh apa yang sudah kaudapat!”

Tidak ada respons, itu baik sekali. Namun Ahran merasa sangat terpukul. Sebenarnya, apa yang telah terucap barusan memanglah apa yang selama ini ada dalam pikirannya. Dan selama itu pula dia berusaha agar tidak pernah menyiratkannya.

Halil berlari menuju tangga. Langkah brilian. Sayangnya, kekuatan yang mengendalikan Ahran lebih cepat. Pedang perak merobek punggungnya lebih dulu. Anak laki-laki yang malang itu pun terguling.

Ahran turun dengan melompati empat anak tangga sekaligus. Dia berlutut di dekat Halil yang meringkuk sambil merintih.

“Memang, sulit untuk memercayai teman kita sendiri bermaksud mencelakai,” kata Ahran. “Kalau begitu, kuakhiri saja penderitaanmu ini. Bagaimana pun, kau pernah menjadi sahabatku. Aku tidak akan menyiksamu.”

Di luar dugaan, Halil bergerak cepat. Dia meraih senjatanya dan balas menyerang.

Ahran melompat ke belakang, namun terlambat. Lengan kirinya tergores cukup dalam. Sesuatu yang masih mengendalikannya bahkan tidak membuat dirinya kebal. Dia tetap merasa perih.

“Tutup mulutmu!” Halil mendelik. Itu adalah kali pertama Ahran melihat sahabatnya sangat berang. “Kalau ini yang kauinginkan, kuhabisi kau lebih dulu!”

Seketika, Ahran mendapatkan kendali atas dirinya kembali. Dia langsung berkata, “A-aku ... dari tadi. Ada yang mengendalikanku!”

“Kau membuatku muak,” Halil memasang wajah kecewa. “Ternyata selama ini, beginilah niatmu. Padahal aku sangat memercayaimu.”

“K-kau keliru!” Ahran menyangkal.

Namun sekarang, keadaan telah berbalik. Halil yang mengejarnya. Bilah sabitnya terayun ke depan, terus menghantui sepanjang langkah Ahran.

Tanpa mengurangi kecepatannya kabur, Ahran berusaha angkat bicara. “A-aku ... aku ... dari tadi. Aku tidak—“

Rupanya dia sedang sial. Kakinya tersandung tameng yang tergeletak di lantai. Ahran jatuh tersungkur. Hidungnya adalah yang pertama kali menubruk lantai batu. Darah pun mengucur. Kepalanya seolah dihantamkan bola meriam, sedangkan Halil berdiri menjulang di belakangnya.

Ahran berbalik. Napasnya putus-putus. Nyaris hilang asa, dia berharap Halil mau mendengarnya kali ini. “Lihat pa-pandanganku ... apa aku sama, dengan yang tadi? Ziz, itu tadi Ziz. Iya ... itu bukan aku, Halil.”

“Kamu memanggil siapa, Putra Neslihan?”

“Tidak ....”

Ahran membelalakan mata. Sosok di hadapannya bukanlah rekannya, melainkan seorang wanita yang mengenakan pakaian Halil. Iblis bergaun yang beberapa saat lalu menampakkan diri di hutan.

“Mempermainkan manusia itu menyenangkan,” katanya menggoda. “Terlebih, yang masih muda dan bersemangat. Lucu sekali melihat wajahmu barusan.”

“Kau adalah—“

“Ziz,” Sang iblis wanita membenarkan. “Benar. Ini aku, Anak Adam.”
Air mata Ahran menetes. “Katakan di mana Halil!”

Wanita iblis itu menghampiri Ahran yang bergeming membeku. Dia berbisik di telinga pemburu muda itu, “Temanmu ada di sini, di dalam diriku. Aku yang memakannya beberapa pekan silam. Lalu aku membawamu ke sini. Tidak ada yang menyadarinya, termasuk kamu dan ibumu. Sandiwaraku hebat, ‘kan?”

Ahran menelan ludah. Jantungnya berdegup keras dan napasnya sesak. Dia berharap nyawanya dicabut saat ini juga oleh Tuhan.

“Ibumu telah mengirim putraku ke neraka,” lanjut sang iblis. “Sekarang, aku ingin menggantikan putraku yang hilang itu. Kamu bersedia menjadi putraku, kan?”

Ahran menggerakkan matanya ke sudut. Dia menatap iblis di sisinya dengan nyalang.

“Aku tidak sudi!” salaknya.

Diseretnya tubuhnya ke samping, menjauhi sang iblis. Dia pun berkonsentrasi, terpejam selama beberapa saat. Seiring dengan itu, tanah di dekat kakinya berpendar merah. Menciptakan semacam sigil berbentuk bintang segi enam. Tatkala membuka mata, bibirnya merapal, “Lehavah!”

Kobaran api menyelimuti dirinya. Namun tidak lama berselang, api itu menguap dan berkumpul menjadi tujuh bola api di udara. Ahran mengarahkan satu ke iblis wanita.

“Sihir yang tidak biasa, persis ibumu,” komentar sang iblis seraya melompat berdiri. “Tidak buruk!”

Ahran tidak berhenti. Dilepaskannya bola-bola sihir itu ke arah musuh. Sudah tak dipedulikannya lagi risiko yang mungkin ditanggungnya. Asalkan iblis wanita itu mati, dia bersedia melakukan apa saja.

Bola api ketiga mengenai pakaian sang iblis. Wanita itu mulai jengah. “Aku tidak pernah berniat membunuhmu,” katanya sambil memadamkan api. “Tapi kalau kamu menantangku, aku takkan segan!”

Dia menyeringai lebar, memperlihatkan sederet gigi yang runcing. Lantas, dia mengambil sabit yang biasa digunakan Halil.

“Putra Neslihan, kukirim kamu ke neraka. Bertarunglah dengan putraku di sana!”

Wanita itu melayangkan bilah sabitnya ke arah wajah Ahran. Yang untungnya bisa dihindari. Anak laki-laki itu memalingkan wajah untuk berkelit, lantas berdiri dan berlari. Ingin punya lebih banyak waktu untuk merencanakan serangan balasan. Ketiga bola sihir yang tersisa masih melayang di belakang bahunya.

“Percuma lari,” ucap sang iblis di belakang, “aku selalu mampu menangkapmu.”

Benar saja. Tiba-tiba wanita itu telah duduk di sebentuk gundukan tulang dan baju besi. Dia menyilangkan tangan.

“Menyerah?”

Ahran menjawab dengan melancarkan tiga bola api sekaligus. Alhasil, kumpulan zirah terbakar sementara sasarannya sekarang sudah berpindah tepat di depan wajahnya.

“Kejutan, Anak Adam!”

Pemburu muda itu pun terpental jauh. Punggungnya menabrak dinding. Begitu tiba di permukaan lantai, lautan kerangka menyambutnya. Kalau Ahran bukan penyihir, besar kemungkinan riwayatnya tamat seketika itu juga.

Tapi deritanya belum usai. Sang iblis masih bergairah untuk membuatnya makin sengsara. Dia menarik kerah jubah Ahran, mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Bagaimana?” tanyanya dengan wajah gembira. “Kamu menyadari sendiri apa yang bisa kulakukan terhadapmu, bukan?”

Ahran tidak bisa berkata-kata lagi. Kesadarannya kian tipis. Sedangkan di pihak lain, sang iblis menggerakkan jemari tangan satunya di depan wajah anak laki-laki itu. Mengirimkan aura gelap yang merasuk ke dalam tubuh melalui tarikan napas.

Sekali lagi, Ahran menitikkan air mata. Sejak lama, kesialan tidak pernah jemu mempermainkannya. Selalu ada saat di mana dia menginginkan hidupnya berakhir, namun bukan dengan cara seperti ini. Perlahan, dia menangis terisak.

Tiba-tiba dia ingat ibunya, yang kini menunggu dirinya di rumah. Entah bagaimana, dia merasakan kerinduan yang teramat sangat. Yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya.

Ibu Ahran barangkali memang bukan ibu terbaik di dunia ini. Sifatnya keras, selalu bicara dengan tongkat pemukul, dan kerap kali mengurung putra satu-satunya ini di dalam ruangan berjeruji.

Walau begitu, Ahran tetap menyayanginya. Dia tidak mau mati di sini. Sekurang-kurangnya, dia ingin mengecup ibunya itu sekali lagi. Barulah dia dapat meninggalkan dunia dengan damai.

Maka dengan harapan itu, Ahran merapalkan mantra. Dia belum menguasai sihir ini sepenuhnya. Namun dia berdoa kepada Tuhan, agar dapat menggunakan kemampuannya tersebut sekali ini saja. Untuk setidaknya melukai sang iblis cukup parah.

Ahran pelan-pelan membuka matanya. “Lehavah charon!”

Di bawah kaki sang iblis, tengkorak dan tulang belulang berpendar. Sebuah sigil berukuran besar terbentuk. Wanita iblis itu akhirnya mengempaskan Ahran dan mencoba melarikan diri.

Kau takkan berhasil.

Seperti yang sudah-sudah, api menyelimuti Ahran. Kali ini jauh lebih panas dan berkobar. Ahran mungkin tidak merasakan panas sihirnya sendiri, tapi dia tahu musuh takkan bisa berkutik.

Api sihir pun menguap dan berpusar membentuk bola api tunggal. Sang iblis menjerit menyaksikan sihir itu.

“Demi Tuhan!” seru Ahran. “Enyahlah kau dari dunia ini!”

Bola sihir itu melesat dengan cepat. Nyaris secepat satu detak jantung, api membentuk tombak yang langsung menghunjam tubuh lawan.

Sang iblis terpaku. Mulutnya menganga. Dia tak sempat menjerit saat api menggerogoti dirinya.

Sebelum tubuhnya benar-benar terkikis, dia memperlihatkan wujudnya yang sejati. Wanita berambut putih panjang, dengan wajah manusiawi dan sayap hitam yang membentang.

Setelah itu, kesadaran Ahran berangsur-angsur menghilang. Akan tetapi sebelum dia pingsan, dia merasakan sesuatu masuk ke dalam tiap lubang di tubuhnya. Dia juga mendengar sebuah suara lembut mengalun dalam pikirannya.

“Karena kamu telah berhasil mengalahkanku. Maka dengan sisa kekuatanku, aku bersemayam dalam dirimu. Aku akan membantumu tiap kamu menemui kesulitan. Panggilan aku, dan kuhancurkan musuh-musuhmu.”

-End-


PS: tidak berhubungan dengan kanon saya di Battle of Realms V.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar